August 10th, 2008 by bhutoijo2

Boleh Ngga’ Aku Berprediksi ?

Bahasa kalimat di atas, bukanlah merupakan bahasa yang sifatnya
umum. Agar mudah, maka kalimat itu akan aku ubah menjadi kalimat yang sifatnya
umum. Boleh ngga’ aku mempunyai perkiraan ? Dengan demikian kalimat ini
merupakan sinonim kalimat di atas. Terlepas dari perkara kalimat diatas
(berprediksi atau perkiraan), aku akan menarik pada sebuah suasana yaitu pada
sebuah suasana yang sedang terjadi, dan sungguh dalam suasana itu ada sesuatu
yang menarik, karena pada sesuatu didalam suasana itu terdapat hal yang menarik,
boleh ngga’ aku berprediksi atau bolehkah aku mempunyai perkiraan atas suasana
dari sesuatu, sesuatu yang sedang terjadi yang menyelimuti keagungan ibu
pertiwi ? Dan sungguh Allah telah bekalkan rahmat kepada Ibu Pertiwi, ibu pertiwi
yang cantik molek penuh pesona yang bergaun kemerdekaan, kini dan saat ini
seakan – akan ada yang mencoba mengganti gaun ibu pertiwi, yang gaun itu
dirajut oleh kenistaan dan para perajut – perajutnya adalah para pendusta,
untung saja pesona dan kecantikan serta kemolekan ibu pertiwi tak surut, hingga
keagungan dan kemuliaan ibu pertiwi masih mampu mengikat siapa saja yang
berjiwa nasionalisme, juga masih mampu memikat siapa saja yang masih berpegang
teguh pada budaya bangsa, sungguh ibu pertiwi kecantikanmu akan tetap
abadi…..

Wahai ibu pertiwi, padaku engkau ajarkan jiwa gagah kesatria,
tanpa pamrih, itulah jiwa patriot. Dan aku adalah salah satu patriot bangsa ini
yang tidak mudah tergoyah dada dan jiwa ini, walaupun tertindas sekalipun, aku
tidak mau menjadi pengkhianat negari ini. Betapa tidak, tidak ada satu alasan
dari arah mana saja dan kapanpun jua, agar aku tidak mencintai ibu pertiwi bahkan
sampai berkhianat.

Wahai ibu pertiwi, dengan ktabahan dan kemuliaanmu, engkau
sanggup menjadi saksi atas dikuburnya ribuan bahkan jutaan para pahlawan dan
katamu dia adalah kusuma bangsa, pandai sekali engkau ibu pertiwi dalam
menghibur dirimu sendiri. Darah yang berbau amis, setelah engkau hirup, katamu
bau itu bau darah rela berkorban atas jiwa – jiwa suci, jiwa – jiwa pejuang
negeri ini sampai merdeka, itulah keharuman abadi katamu.

Wahai ibu pertiwi, engkau bekalkan Islam sebagai agama
penyempurna yang diturunkan kepada negeri ini melalui wali – wali Allah, hingga
atas Islam kami saling mengenal agama – agama yang lain. Padaku dan pada semua,
dan sampai sekarang, engkau tanamkan budaya gotong – royong tanpa pamrih dan
saling menjunjung tinggi kebersamaan, satu nusa satu bangsa, katamu itulah
ikatan tali persaudaraan. Dan engkau tanamkan pula pada dada jiwa kami, dalam
perbedaan sesungguhnya ada kebersamaan, bahasa yang engaku tetapkan atas itu “
Bhinneka Tunggal Ika”.

Boleh ngga’ aku berpredikasi, atau mempunyai perkiraan bahwa
para perajut – perajut yang menciptakan kain yang hina, mereka adalah para
pendusta yang sifat kekejaman dan pengkhianatannya lebih parah dari gerakan DI
atau komunisme. Sama sekali itu belum separuh dari gerakan para pendusta.

Wahai ibu pertiwi, kenapa dari tadi engkau diam, padahal aku
sudah banyak bicara, sungguh aku jadi bingung, apakah engkau sedang sedih dan
sakit hatinya, hingga engkau marah diam seribu bahasa ataukah engkau sedang
memperhatikan aku ? Siapa tahu engkau menuduhku sebagai pendusta negeri ini,
sungguh aku bukan pendusta negeri ini, wahai ibu pertiwi, ataukah engkau sedang
terpesona kepadaku, ditengah jagad separah ini, masih ada orang gagah seperti
aku ?

Wahai ibu pertiwi, kalau engkau tidak mau menjawab cobalah
tersenyum untukku, sebetulnya aku anak keberapa darimu ? Berkali – akli aku
mencoba bertanya dan menggoda, ibu pertiwi tetap diam seribu bahasa. Sudahlah
ibu pertiwi, aku tidak akan memaksamu, yang jelas aku tidak akan pernah kecewa
atas sikapmu, bahkan sebaliknya, aku akan lebih mencintai dan menyayangimu agar
ketinggian martabatmu tetap abadi. Yang jelas aku akan bercerita kepadamu,
wahai ibu pertiwi. Bercerita tentang sesuatu, sesuatu yang sesungguhnya engkau
sendiri melihat, maka beri aku kesempatan dan waktu. Namanya saja kau sedang
berpredikasi atau mempunyai perkiraan, bahwa telah terjadi di negeri ini sebuah
pertandingan yang memperebutkan piala bergilir “ REFORMASI ” dan piala bergilir
itu di dapat dari sponsor pihak asing, mengapa aku sebut pihak asing ? Gampangnya
karena aku tidak kenal dan mengenal, karena mereka bukan rakyat bangsa ini,
yang jelas piala reformasi itu tidak akan diberikan kepada siapapun atas nama
bangsa Indonesia, melainkan tetap dipegang oleh pihak asing. Mereka pihak
asing, hanya menginginkan negeri ini hancur berantakan.

Wahai ibu pertiwi, pialamu yang agung yang lebih besar dan lebih
tinggi sama sekali saat sekarang ini tidak terbaca yaitu : Piala menjunjung
tinggi kemerdekaan. Piala itu dalam kaca keagungan, kaca itu untuk menjaga
piala itu, dan piala itu diberikan kepada anak – anak pertiwi yang mampu
mangisi dan membangun negeri ini.

Wahai ibu pertiwi, saat ini piala reformasi menjadi buah bibir
setiap insan Indonesia. Betapa hebat pihak asing itu, wahai ibu pertiwi, mereka
membuat bulatan bola besar yang amat besar, yang sungguh di dalam bulatan bola
itu terdapat makhluk ganas menyeram kan lagi jahat, yang tidak segan – segan
makhluk itu membunuh serta menghancurkan siapa saja yang mau menyingkirkan bola
itu. Setelah aku perhatikan ternyata bola itu tercipta dari bahan – bahan yang
kualitasnya mempunyai kualitas super, diantara bahan bulatan bola itu tiada
lain adalah dibuat dari bahan isue politik, yang bertujuan mengganggu gugat
ideologi, isue keamanan yang bertujuan mengganggu gugat perdamaian, isue
ekonomi dan kesehatan yang bertujuan mengganggu gugat ketentraman, isue hukum yang
bertujuan mengarah pada kehancuran, isue
agama yang bertujuan untuk memecah belah, isue teroris yang mengarah pada sifat
adu domba, serta isue pendidikan yang mengarah pada tingkat pembodohan. Mengapa
demikian ? Karena mereka melihat kekuatan moral bangsa Indonesia, yaitu
Pancasila yang merupakan payung kekuatan terkuat diantara bangsa – bangsa di
dunia, sebagai tameng perisai kejayaan bangsa Indonesia. Maka dengan serta
merta pihak asing menciptakan bola yang berukuran besar yang sengaja
digelindingkan di atas pangkuanmu, wahai ibu pertiwi, maka bagi yang bermain
bola, mereka akan terlarut dalam permainan itu, dan bagi mereka yang suka
menonton paling tidak ingin mencoba menendang bola itu, dan bagi yang tidak
suka bermain dan merasa terganggu pasti ingin menyingkrkan bola itu. Kini semua
anak – anakmu, wahai ibu pertiwi, hampir semua terjebak oleh permainan bola
itu, karena sesungguhnya aku sendiri ingin menghalau bola itu agar tidak samapi
dihadapanmu, dengan begitu sama saja aku telah terlarut juga oleh permainan
bola itu. Padahal setiap kali bola itu di bawa oleh satu kelompok atau oleh
individu (perorangan), makhluk yang didalamnya akan keluar dan membunuh dengan
menghancurkan siapa saja. Sudah banyak korban orang – orang yang mati oleh
permainan bola itu dan piala reformasi sampai hari ini belum bergeser. Piala
itu masih dipegang oleh panitia penyelenggara yaitu pihak asing. Siapa saja
hampir tertipu oleh permainan bola itu dan siapa saja akan menjadi korban
permainan bola itu. Hanya ada satu jalan untuk mengatasi itu semua, hentikan
permainan bola itu yang memperebutkan piala reformasi, maka kita kembali ke
Ideologi dan Pancasila, kita ganti dengan piala menjunjung tinggi kemerdekaan,
karena ibu pertiwi telah menjadi saksi atas gugurnya para pahlawan yang
menjunjung tinggi martabat bangsa, hingga Indonesia jaya di atas mata bangsa –
bangsa sedunia.

Merdeka ! Hati – hati
atas pesan para sponsor, ibu pertiwi kita tidak pernah kena flu apalagi
antraks, dan tidak pernah pula ibu pertiwi kita melahirkan para teroris, ibu
pertiwi tidak pernah mengajarkan ajaran pembodohan melainkan ajaran agama dan
ajaran moral Pancasila, dan ibu pertiwi masih sanggup memberikan baju dan
makanan samapai dunia ini kiamat.

Bhinneka Tunggal Ika ! Itu adalah pesan maklumat bangsa, apakah
para RW dan RT setuju ? Saya yakin setuju untuk kembali kepada ideologi dan
Pancasila, maka kepada seluruh rakyat Indonesia, biarkanlah bola itu
menggelinding sa’karepe dewe, biar
habis di makan matahari yang lebih besar ! Ayo bareng – bareng kita menghadap
Allah, berserah dan pasrah, saling legowo dalam menghadapi setiap permasalahan.
Rawe – rawe rantas, malang – malang putung, sekali NKRI tetap Indonesia, sekali
merdeka tetap berpegang teguh pada Ideologi dan Pancasila.

atas nama Bangsa Indonesia, para
pahlawan serta leluhur bangsa dan seluruh rakyat yang berjiwa patriot…MERDEKA !!!